Hal Hal yang Membuat Badak di Taman Ujung Kulon Makin Langka

GUNUNG Krakatau di Selat Sunda meletus pada tahun 1883. Letupan awan panas disertai gelombang tsunami saat letusan itu telah menewaskan sedikitnya 36.000 jiwa. Warga yang bertahan hidup, terpaksa harus mengungsi mencari tempat yang aman. Saking dahsyatnya, letusan itu juga memicu kerusakan lingkungan di sekitarnya.

Letusan Krakatau juga ini dipercaya sebagai salah satu faktor yang berkontribusi melenyapkan banyak satwa liar, salah satunya badak jawa yang berada di ujung barat Pulau Jawa.

Berbeda dengan manusia yang enggan kembali, alam kemudian merekondisi dirinya sendiri. Tanaman perintis tumbuh, begitupun dengan hewan yang mulai kembali dan bereproduksi. Setelah hutan itu berkembang lagi, lahan itu kemudian dinyatakan sebagai cagar alam pada tahun 1921 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Saat ini, lahan itu bernama Taman Nasional Ujung Kulon. Hari ini, Minggu 26 Februari 2017, Taman Nasional Ujung Kulon tepat berusia 25 tahun. Google bahkan membuat doodle khusus yang menandakan Hari Jadi ke-25 Taman Ujung Kulon atau 25th Anniversary of Ujung Kulon Park.

Saat ini, keberadaan badak jawa semakin terdesak oleh banyak hal. Data menyebutkan bahwa saat ini badak jawa hanya tinggal 50-60 ekor. Badak jawa bahkan disebut sebagai mamalia terlangka di bumi ini.

Desakan manusia yang bermukin dan berusaha di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon semakin terlihat. Janan heran jika melihat banyak permukiman warga di dalam taman nasional itu, terutama di wilayah perbatasan. Sawah dan ladang juga semakin mendesak ke dalam kawasan konservasi ini.

Permukiman penduduk dalam kawasan taman nasional dan perambahan adalah masalah yang tak kunjung usai di Taman Nasional Ujung Kulon. Masalah menjadi semakin pelik karena jumlah manusia di sana semakin membengkak. Berdasarkan catatan taman nasional, penduduk paling banyak berada di Kampung Legonpakis. Di sana terdapat ratusan rumah yang menempati lahan seluas 20 hektare. Selain itu, sedikitnya 110 hektare lahan juga telah dikuasai masyarakat untuk bercocok tanam di Legonpakis. Beberapa wilayah lain juga memiliki keadaan yang tak jauh berbeda.

Mendesaknya para perambah ke dalam area Taman Nasional Ujung Kulon menjadi ancaman tersendiri bagi kelangsungan hidup badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang jumlahnya semakin menyusut. Selain sangat sensitif terhadap kehadiran manusia, habitat badak jawa juga menjadi sangat minim dan terdesak.

Untungnya, perambahan hutan itu tak dibarengi dengan tingginya angka perburuan seperti yang ditemui di wilayah konservasi lain di Indonesia. Meskipun nilai materi cula badak sangat tinggi di pasar gelap, namun para pemburu harus berpikir dua kali untuk memburunya.

Ancaman terhadap habitat badak jawa ternyata tak hanya datang dari manusia, melainkan dari alam sendiri. Jika manusia telah mendesak habitat badak jawa menjadi lebih sempit, alam di zona inti taman nasional juga semakin tak bersahabat dengan badak. Ancaman degradasi habitat karena suksesi hutan menuju klimaks serta adanya invasi tumbuhan langkap (Arenga obtusifolia) menjadi masalah serius bagi badak.

Beberapa hasil penelitian memberikan indikasi bahwa invasi langkap merupakan penyebab utama terjadinya degradasi habitat badak jawa secara alami dan dalam jangka panjang diduga menyebabkan penurunan populasi satwa tersebut di Taman Nasional Ujung Kulon. Badak jawa adalah satwa pemakan pucuk-pucukan atau tanaman rendah (browser). Saat langkap tumbuh besar hampir semua tanaman di bawah tajuknya tak bisa tumbuh.

Celakanya, langkap tumbuh dengan cepat dan masif. Pada area di blok Cilintang Ujung Kulon misalnya, langkap dapat tumbuh 3.000-4.000 batang per hektare. Bersamaan dengan semakin banyaknya langkap, pakan badak jawa menjadi semakin berkurang. Padahal, badak jawa membutuhkan makanan sedikitnya 50 kilogram per ekor per hari dedaunan. Belum lagi badak jawa harus bersaing mencari pakan dengan banteng yang hidup pada daerah sama dengan jumlah lebih banyak.

Sebagai upaya penyelamatan badak jawa, pengelola Taman Nasional Ujung Kulon membuat second habitat untuk badak jawa di sebelah timur Ujung Kulon. Saat ini, sebagian besar badak menghuni daerah semenanjung di bagian barat dan sebagian di antara mereka akan mencoba ”digiring” secara alami ke arah timur

Mencoba melestarikan badak jawa di tengah desakan manusia dan alam sendiri bukanlah hal mudah. Petugas terus mencoba mendekati masyarakat supaya tidak terus merambah, namun pada saat bersamaan mereka juga harus melakukan sebuah “rekayasa” habitat agar kelangsungan hidup badak jawa terjaga secara alami. Meskipun demikian, keyakinan dari para pengelola taman nasional dan semua pihak yang terjun dalam upaya penyelamatan badak jawa memberikan harapan baru untuk kelangsungan hidup mamalia yang paling terancam punah di dunia ini.

| agen poker | agen judi online | poker online | bandar | bandarceme | bandardomino | bandaronline | capsa | bandarcapsa | capsaonline | capsasusun | ceme | cemeonline | domino | dominoonline | duit | judionline | judipoker | onlinecapsa | onlineceme |onlinedomino | onlinepoker | poker | POKERINDO | POKERJAKARTA | pokerindonesia | pokerjudi | pokeronline | POKERTERBAIK | RAJASAKTI | uang | SAKONGSA | CASINO | JUDIBOLA | SABUNGAYAM |SAKONGSA | SBOBET | SBOBETCASINO | SPORTBOOK | TOGEL |

WWW.SAKONGSA.COM

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *